oleh

BPBD Sinjai Mencatat 19 Kejadian Bencana Alam Hingga Maret 2022

SINJAI.Inforestorasi. Sejak tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2022, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sinjai telah mencatat 19 kejadian bencana di wilayah Kabupaten Sinjai.

Kejadian bencana alam pada triwulan pertama tahun 2022 ini cukup meningkat dibanding tahun 2021 lalu yang pada periode yang sama, belum ada catatan kejadian bencana alam dari 9 wilayah kecamatan di Kabupaten Sinjai.

Kepala BPBD Kabupaten Sinjai, Budiaman yang ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (08/04/2022) mengungkapkan, bahwa tingginya intensitas kejadian bencana alam di wilayah Kabupaten Sinjai pada awal tahun 2022 ini, telah mendapat perhatian serius dari bapak Bupati dan segenap pimpinan unsru Forkopimda.

Perhatian yang ditunjukkan oleh Bupati beserta jajaran Forkopimda, antara lain direalisasikan melalui Apel Siaga Gelar Pasukan dan Peralatan di halaman Eks Kantor Bupati Sinjai pada Senin pagi (08/11/2021).

“Apel gelar pasukan dan peralatan dilaksanakan sebagai bagian dari bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya bencana alam akibat La Nina yang telah menjadi peringatan dini dari BKMG”.

Demikian halnya pada saat terjadi bencana alam, Bupati Sinjai senantiasa memberikan arahan dan komando untuk segera dilakukan upaya evakuasi dan penyelamatan maupun tanggap darurat sesuai kebutuhan dengan tetap mengedepankan perlindungan dan keselamatan jiwa warga terdampak.

Lebih lanjut, Budiaman menjelaskan bahwa penyebab utama meningkatnya kejadian bencana pada periode tiga bulan pertama tahun 2022, salah satunya karena dampak La Nina yang memicu terjadinya cuaca ekstrim berupa huja deras disertai dengan angin kencang.

Dari 19 kejadian bencana alam tersebut, tanah longsor mendominasi kejadian bencana alam yang melanda beberapa wilayah kecamatan Kabupaten Sinjai dengan 10 kejadian atau 52,63%, disusul angin kencang dengan 7 kejadian atau 36,84%, dan banjir 2 kejadian atau 10,53%.

Jadi dari sisi tren jenis bencana, terlihat bahwa bencana yang paling banyak terjadi yakni bencana hidrometeorologi basah seperti tanah longsor, banjir dan cuaca ekstrem.

“Kemudian dari sisi distribusi spasialnya, Kecamatan Sinjai Selatan merupakan wilayah kecamatan dengan jumlah kejadian bencana alam terbanyak, yakni 8 kali kejadian yang meliputi Tanah Longsor 4 kejadian yang tersebar pada beberapa desa, disusul dengan peristiwa Angin Kencang 2 kejadian, dan banjir 2 kejadian.

Kemudian kejadian bencana alam terbanyak kedua berada  pada wilayah Kecamatan Sinjai Tengah dengan 5 kejadian berupa tanah longsor yang juga tersebar pada beberapa desa, yakni Desa Saotanre, dan Desa Baru.

Sedangkan pada Kecamatan Bulupoddo terdapat 4 kejadian bencana alam berupa angin kencang, Kecamatan Tellulimpoe 1 kejadian berupa jembatan ambelas dan Kecamatan Sinjai Timur dengan angin kencang 1 kejadian.

Meskipun tidak ada korban jiwa meninggal dunia dari rangkaian kejadian bencana alam yang ada, namun terkonfirmasi satu orang mengakami luka ringan setelah diterpa dengan runtuhan atap rumahnya akibat angin kencang.

Untuk korban terdampak dan harus mengungsi ada 2 KK, satu KK di Sinjai Tengah dan 1 KK di Kecamatan Bulupoddo, namun pengungsian dilakukan ke rumah keluarga terdekat.

Adapun kerusakan yang tercatat dari total kejadian bencana alam pada periode tersebut, yakni 63 rumah warga mengalami kerusakan, puluhan pohon tumbang, sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan, satu jembatan ambelas, serta kerusakan sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan warga.

Keterbatasan personil BPBD untuk melakukan kaji cepat terhadap dampak kejadian bencana pada saat tanggap darurat, memang masih menjadi kendala bagi kami untuk memaparkan data dan informasi kerugian yang ditimbulkan.

Ini tentu akan tetap menjadi salah satu perhatian kami ke depan, karena dengan hasil kaji cepat yang dilakukan akan sangat bermanfaat dalam menentukan kebijakan dalam hal penanggulangan bencana, baik dalam tanggap darurat maupun untuk fase transisi pemulihan dan rehabilitasi.

Dalam penanganan kejadian bencana di awal tahun 2022 ini, sinergitas dengan semua pihak, TNI, Polri, para pimpinan OPD, Camat, Lurah dan Kepala Desa beserta warga masyarakat setempat, PMI, Tagana, Baznas, media dan para relawan menjadi kekuatan mewujudkan ketangguhan daerah menghadapi bencana, pungkasnya.

Komentar

Terbaru